Penulis: Adnan Abdul
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — SMA Negeri 8 Samarinda yang terletak di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Karang Asam, Kecamatan Sungai Kunjang, memperkuat upaya pencegahan perundungan melalui komunitas Siswa Anti Perundungan (Roots), wadah agen perubahan yang melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif dan bebas kekerasan.
Komunitas ini aktif melakukan sosialisasi mengenai bahaya bullying kepada seluruh siswa, terutama peserta didik baru. Ketua Komunitas Siswa Anti Perundungan Nikita Aulia Anugerah menjelaskan, berbagai kegiatan dilakukan untuk membangun kesadaran siswa terhadap isu perundungan.
“Kami membuat poster tentang bahaya bullying dan sosialisasi kepada kelas 10 mengenai dampak perundungan, baik di sekolah maupun di media sosial,” kata Nikita kepada Korankaltim.com Senin (17/11/2025)).
Nikita juga menyoroti dampak serius bullying terhadap psikologis korban. “Bahaya bullying itu diantaranya dapat merusak mental seseorang. Korban bisa menjadi penyendiri, tidak percaya diri dan mengalami tekanan berat,” tuturnya.
Motivasinya bergabung dalam komunitas ini berangkat dari keinginan untuk memberikan perubahan positif. “Saya ingin ikut memperbaiki perilaku yang tidak terpuji, baik di sekolah maupun di luar,” jelas Nikita.
Pembina Komunitas Siswa Anti Perundungan Rudy Hendro Purnomo mengatakan komunitas ini dibentuk sejak 2021 sebagai tindak lanjut instruksi Kemendikbud mengenai pembentukan satgas atau komunitas anti-perundungan di sekolah. Menurutnya, pada awal pembentukan jumlah anggota sempat dibatasi.
“Pada awal 2021 itu dibatasi sampai 30 anak. Cuma seiring perjalanan, karena banyak yang ingin ikut, ya sudah, kami terima. Semakin banyak semakin bagus, jadi semua kelas harapannya memiliki agen perubahan,” ujar Rudy.
Keberadaan agen di setiap kelas membuat proses pencegahan lebih efektif. “Setiap kelas punya agen. Dari situ enak, karena mereka bekerja sama dengan sekolah. Kalau ada yang mulai nakal, mereka mengingatkan. Di kelas pun ada perubahan karena mereka punya rambu-rambunya,” papar Rudy.
Selain pengawasan, komunitas Roots juga menjalankan kegiatan rutin. “Aktivitas rutin kami biasanya pertemuan sesuai situasi. Lalu kami bekerja sama dengan tim kokurikuler yang memberi kesempatan untuk sosialisasi setiap hari Jumat,” sebutnya.
Program tersebut ditutup dengan kegiatan kreatif para siswa. “Hari Jumat nanti yang terakhir, puncaknya dari semua program. Mereka bebas membuat kegiatan kreatif seperti menyanyi, baca puisi, atau drama, dengan tema anti-perundungan,” ucap Rudy lagi
Sebagai sekolah inklusi, SMA Negeri 8 terus mendorong budaya saling menghormati. “Karena SMA 8 adalah sekolah inklusi, maka penting untuk saling menghargai dalam kondisi apa pun. Harapannya mereka menjadi agen bagi teman-temannya sendiri untuk mencegah bullying,” pungkas Rudy.
Editor: Aspian Nur




