Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Pendidikan

Menghitung Pakai Jari Tingkatkan Keterampilan Anak

Koran Kaltim
22 November 2025
0 views
4 min
(ilustrasiinfobae)

KORANKALTIM.COM - Sebuah studi ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Psychology mengungkapkan kalau  menggunakan jari untuk menghitung terutama saat usia anak-anak meningkatkan perkembangan keterampilan penjumlahan ditahap kehidupan selanjutnya bagi mereka.

Penelitian yang dilakukan ini memberikan bukti empiris tentang praktek yang umum meski masih diperdebatkan dalam pendidikan anak usia dini. Menggunakan jari tidak hanya membantu memecahkan soal penjumlahan ditempat tetapi juga mendorong pengembangan keterampilan berhitung yang lebih maju.

Penelitian yang dilakukan di negara Swiss ini dipimpin oleh Marie Krenger dan Catherine Thevenot  dari Institut Psikologi di Universitas Lausanne .

Mereka mengamati 192 anak berusia antara 4,5 dan 7,5 tahun dan mencatat lintasan hitung jari setiap anak perlu dipertimbangkan untuk memahami perkembangan kemampuan berhitung mereka.

Menghitung dengan jari merupakan praktik yang sudah lama ada dan tersebar luas di kalangan anak-anak saat memecahkan soal matematika. Menurut studi baru, strategi ini telah berusia lebih dari 30.000 tahun dan diterapkan dalam berbagai budaya.

Jari bertindak sebagai jembatan antara representasi konkret kuantitas dan simbolisasi numeriknya, yang memfasilitasi pemahaman prinsip-prinsip seperti korespondensi satu-satu dan kardinalitas.

Meskipun bermanfaat secara historis, penggunaan jari telah menimbulkan perdebatan dikalangan guru dan spesialis. Beberapa guru percaya praktek ini mencerminkan kesulitan dalam Pelajaran matematika.

Misalnya, 20 persen guru prasekolah di Prancis mengaitkannya dengan masalah dalam belajar berhitung, angka ini meningkat menjadi 30 persen di kelas satu.

Namun penelitian menunjukkan antara usia empat dan tujuh setengah tahun, mereka yang menggunakan jari cenderung mendapatkan hasil yang lebih baik .

Perbedaan tradisional antara "pengguna" dan "bukan pengguna" bisa menyesatkan. Banyak anak yang berhenti menggunakan jari mereka pada usia sekitar tujuh tahun sebenarnya pernah menggunakannya dan setelah menggunakannya mereka mengintegrasikan strategi tersebut yang pada akhirnya tercermin dalam kinerja mereka selanjutnya.

Tim Krenger dan Thevenot mengamati 192 anak dari latar belakang sosial ekonomi menengah keatas. Mereka menilai kinerja mereka dalam penjumlahan dan ketangkasan jari selama tujuh sesi, dari usia 4,5 hingga 7,5 tahun.

Setiap kali anak-anak memecahkan soal penjumlahan yang semakin sulit tanpa batas waktu atau instruksi khusus mengenai jari-jari mereka. Ketika mereka bertanya, mereka diberi tahu mereka dapat menggunakannya dengan bebas .

Analisis menunjukkan, hingga usia 5,5 tahun, sebagian besar anak menyelesaikan soal penjumlahan tanpa menggunakan jari. Antara usia enam dan enam setengah tahun, tren ini berbalik dan anak-anak yang menggunakan jari menjadi lebih umum, puncaknya bertahan hingga usia 6,5 tahun.

Pada usia tujuh tahun, kelompok pengguna dan non-pengguna sama. Hanya dua belas dari 163 anak yang belum pernah menggunakan jari mereka, yaitu kurang dari 7,5 persen dari sampel .

Dengan demikian, setidaknya 93 persen anak menggunakan jari mereka dibeberapa titik dalam perkembangan mereka . "Setidaknya 93 persen anak-anak berusia antara 4,5 dan 7,5 tahun menggunakan jari mereka untuk berhitung di beberapa titik dalam perkembangan mereka," sebut para peneliti.

Studi ini mengidentifikasi beberapa tipe pengguna, mereka yang tidak pernah menggunakan jari mereka, mereka yang menggunakannya dan kemudian mengubah strategi mereka (mantan pengguna), mereka yang menggunakannya untuk pertama kali dan mereka yang melakukannya secara teratur.

Mantan pengguna— mereka yang berhenti menggunakan jari setelah sebelumnya menggunakannya—menunjukkan hasil terbaik mulai usia tujuh tahun. "Studi ini mengungkapkan anak-anak yang menggunakan hitung jari pada tahap awal perkembangan matematika memiliki keterampilan penjumlahan yang lebih kuat di kemudian hari," ujar para ilmuwan.

Analisis statistik menunjukkan mereka yang menggunakan jari-jarinya mengungguli mereka yang bukan pengguna dalam hal akurasi hingga 6,5 tahun, tetapi setelah itu, para mantan penggunalah yang memimpin kinerja tersebut.

Penelitian ini menganalisis strategi yang digunakan dengan jari yaitu awalnya, strategi yang dominan adalah "menghitung semua" (mewakili kedua bilangan yang dijumlahkan dan menghitungnya bersama-sama), yang kemudian digantikan oleh metode yang lebih efisien seperti "menghitung dari salah satu bilangan yang dijumlahkan". Perubahan ini mencerminkan kemajuan menuju strategi mental yang lebih efektif dan canggih.

Temuan relevan lainnya adalah anak-anak lebih banyak menggunakan jari mereka dalam penjumlahan yang rumit (penjumlahan lebih besar dari lima atau hasil lebih besar dari sepuluh), yang menunjukkan bahwa jari berfungsi sebagai pendukung saat memori kerja menghadapi tantangan lebih besar.

Penelitian yang diterbitkan dalam Developmental Psychology menyarankan untuk tidak menghambat penggunaan jari pada masa kanak-kanak, karena penelitian ini memberikan kerangka kerja untuk mengembangkan strategi mental tingkat lanjut .

“Hasil penelitian kami menunjukkan menghitung jari memberikan keunggulan kinerja dibandingkan strategi mental dalam memecahkan soal penjumlahan pada tahap awal pengembangan keterampilan berhitung,” ujar mereka.


Editor: Aspian Nur

Tags:

PendidikanBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Pendidikan.