Penulis : M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menjawab tantangan kualitas dan relevansi pembelajaran di Indonesia.
Akademisi IKIP PGRI Kalimantan Timur, Abdul Rozak Fahrudin, menegaskan bahwa arah pembangunan pendidikan tidak lagi sekadar pada pembangunan fisik, melainkan harus berfokus pada transformasi menyeluruh.
Warisan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tetap relevan, namun perlu diaktualisasikan dalam konteks kekinian. Ia menilai, sistem pendidikan harus mampu mencetak peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kemampuan adaptif.
“Transformasi pendidikan menjadi kebutuhan mendesak. Kita tidak cukup hanya melakukan perbaikan kecil, tetapi harus mengubah cara pandang, proses, hingga ekosistem pendidikan secara menyeluruh,” kata Rozak kepada Korankaltim.com Sabtu (2/5/2026).
Berdasarkan data Rapor Pendidikan Nasional 2025, capaian literasi siswa masih berada di angka 65,4 persen dan numerasi 58,7 persen. Selain itu, kesenjangan kualitas antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih cukup signifikan.
Disisi lain, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan serta tuntutan ekonomi hijau dinilai belum sepenuhnya direspons oleh kurikulum saat ini. Kondisi tersebut menuntut sistem pendidikan untuk lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Transformasi pendidikan setidaknya mencakup beberapa pilar utama. Pertama, perubahan paradigma pembelajaran melalui implementasi Kurikulum Merdeka yang menempatkan guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Kedua, penguatan kepemimpinan kepala sekolah sebagai motor penggerak perubahan di satuan pendidikan. Kepala sekolah didorong tidak hanya berperan administratif, tetapi juga menjadi pemimpin pembelajaran yang aktif melakukan supervisi dan pembinaan guru.
Ketiga, pembangunan ekosistem pendidikan yang melibatkan berbagai pihak. Ia menilai, kehadiran Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur menjadi peluang sekaligus tantangan dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul agar tidak hanya menjadi penonton di daerah sendiri.
Selain itu, transformasi digital juga dinilai harus dilakukan secara bermakna. Teknologi, termasuk penggunaan kecerdasan buatan oleh siswa, harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi guru agar mampu mengarahkan proses belajar secara tepat.
“Digitalisasi bukan sekadar pengadaan perangkat, tetapi bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,” tegas Rozak.
Dari sisi pembiayaan penting menurutnya optimalisasi anggaran pendidikan, termasuk alokasi APBD serta dukungan tanggung jawab sosial perusahaan untuk pengembangan sumber daya manusia di daerah.
Tak kalah penting, transformasi guru menjadi kunci utama. Guru dinilai harus mendapatkan dukungan berupa peningkatan kesejahteraan, perlindungan profesi, serta penguatan kompetensi agar mampu menjadi agen perubahan di sekolah.
Meski demikian, ia mengakui bahwa proses transformasi tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari resistensi perubahan, keterbatasan infrastruktur digital, hingga beban administrasi guru.
Karena itu, momentum Hardiknas diharapkan menjadi titik awal kolaborasi semua pihak, baik pemerintah, sekolah, orang tua, hingga masyarakat, untuk mendorong pendidikan yang lebih berkualitas. “Transformasi pendidikan adalah prasyarat menuju Indonesia Emas 2045. Ini harus menjadi gerakan bersama,” pungkas Rozak.
Editor: Aspian Nur




