Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan di Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) selama kabut asap dinilai membantu mengurangi risiko paparan udara tidak sehat bagi siswa.
Namun, sejumlah orang tua menilai sistem tersebut belum mampu menggantikan efektivitas pembelajaran tatap muka di sekolah.
Salah seorang orang tua murid di SDN 002 Ujoh Bilang, Imran, mengatakan proses belajar di rumah tetap berjalan melalui pemberian materi dan tugas yang dipantau oleh guru. Meski demikian, hasil yang diperoleh anak dinilai tidak semaksimal ketika belajar langsung bersama guru di sekolah.
”Kalau untuk efektivitas belajar memang tidak semaksimal tatap muka langsung dan tidak seefektif ketika pembelajaran di sekolah. Tapi karena untuk mengatasi ataupun menghindari paparan kabut asap, PJJ ini cukup membantu untuk belajar di rumah,” ujarnya, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, terdapat ketidakpuasan tersendiri karena anak tidak memperoleh pengalaman belajar yang biasanya didapat saat berada di lingkungan sekolah, baik melalui interaksi dengan guru maupun teman sebaya.
”Di balik itu ada ketidakpuasan tersendiri karena dari sisi materi, pengalaman belajar di sekolah ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan interaksi langsung itu kurang didapatkan oleh anak sebagai siswa,” katanya.
Penerapan PJJ juga menghadirkan tantangan bagi orang tua yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak belajar di rumah.
Menurut Imran, kondisi tersebut masih bisa diatur, meskipun membutuhkan penyesuaian dalam aktivitas sehari-hari.
Selain itu, pelaksanaan pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada ketersediaan jaringan internet dan perangkat pendukung. Ketika terjadi gangguan jaringan, proses pengiriman maupun penerimaan tugas menjadi terhambat.
”Kendalanya ketika PJJ ini sangat bergantung pada kondisi jaringan. Saat ada gangguan, semuanya tidak bisa berjalan lancar dan harus menunggu jaringan kembali normal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya keterbatasan ekonomi sebagian keluarga dalam menyediakan perangkat belajar seperti telepon pintar maupun fasilitas penunjang lainnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan pembelajaran dari rumah, terutama di wilayah perbatasan seperti Mahulu.
Meski menghadapi sejumlah kendala, Imran mengaku tetap mendukung kebijakan pemerintah dan sekolah selama kondisi kualitas udara belum memungkinkan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara normal.
Menurutnya, kesehatan dan keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama di tengah kabut asap yang masih menyelimuti sebagian wilayah Mahulu.
Editor: Erwin




