Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Lumba-lumba Masuk Sungai Mahakam, BKSDA Sebut Faktor Air Payau

Koran Kaltim
17 Juli 2026
0 views
2 min
Tangkapan layar hewan yang di duga lumba-lumba saat berenang di aliran Sungai Mahakam. (Foto: Istimewa)

Penulis: Rahmat Surya 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Kemunculan seekor lumba-lumba yang terekam berenang di aliran Sungai Mahakam hingga wilayah Kota Samarinda beberapa waktu lalu sempat menghebohkan masyarakat dan menjadi perbincangan di media sosial.

Dalam hal ini Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim menilai satwa tersebut kemungkinan besar merupakan lumba-lumba laut dan bukan Pesut Mahakam.

Seperti yang disampaikan oleh Pengendali Ekosistem Hutan Muda BKSDA Kaltim, Ahmad Ripai, bahwa setelah melakukan identifikasi awal berdasarkan rekaman video yang beredar, menurutnya, bentuk fisik satwa tersebut lebih menyerupai lumba-lumba karena memiliki moncong yang cukup jelas.

“Kalau dilihat sepintas dari videonya memang seperti lumba-lumba. Ada moncongnya, sedangkan pesut tidak memiliki moncong seperti itu,” ujar Ripai saat dikonfirmasi Koran Kaltim, Jumat (17/7/2026).

Dia menjelaskan, masuknya lumba-lumba ke aliran Sungai Mahakam diduga dipengaruhi kondisi musim kemarau yang menyebabkan debit sungai menurun. Saat air sungai surut, kata Ripai, air laut dapat terdorong masuk lebih jauh ke hulu sehingga membentuk kawasan air payau yang masih dapat ditoleransi oleh lumba-lumba.

Dia menjelaskan, masuknya lumba-lumba ke aliran Sungai Mahakam diduga dipengaruhi kondisi musim kemarau yang menyebabkan debit sungai menurun.

Saat air sungai surut, kata Ripai, air laut dapat terdorong masuk lebih jauh ke hulu sehingga membentuk kawasan air payau yang masih dapat ditoleransi oleh lumba-lumba.

“Karena jika diperhatikan kita ini sudah cukup lama mengalami kemarau, air asin dari laut kemungkinan sudah mulai masuk ke Sungai Mahakam. Dan lumba-lumba kemungkinan mengikuti aliran air payau tersebut hingga masuk ke wilayah Samarinda,” ucapnya.

Menurut Ripai, fenomena tersebut merupakan hal yang memungkinkan terjadi selama kondisi air masih bercampur dengan air laut. Sebaliknya, jika kondisi sungai kembali didominasi air tawar, lumba-lumba diperkirakan akan kembali menuju habitat aslinya di perairan laut.

Meski demikian, ia memperkirakan jangkauan air payau di Sungai Mahakam tidak akan mencapai wilayah Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Potensi masuknya air laut diperkirakan hanya mampu menjangkau kawasan sekitar Loa Duri.

“Kalau sampai Kota Bangun rasanya tidak, sebab potensi air payau paling jauh kemungkinan hanya sampai Loa Duri,” tutupnya.

Editor: Erwin

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Samarinda.