Penulis: Rahmat Surya
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Guna meningkatkan pemberdayaan ekonomi, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kaltim menyalurkan bantuan modal usaha kepada 35 mustahik melalui Program Z-Chicken.
Ketua BAZNAS Kaltim Ahmad Nabhan, bahwa melalui program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan penerima manfaat hingga kelak menjadi muzaki atau pihak yang membayar zakat. Dia mengatakan, sebenarnya program ini telah lama direncanakan.
Awalnya hanya ada lima calon penerima yang mengajukan bantuan usaha ayam krispi. Namun, jumlah tersebut dinilai belum ideal untuk pelaksanaan pelatihan dan pendampingan, sehingga pihaknya memutuskan membuka pendaftaran secara terbuka.
“Kita akhirnya membuka kesempatan bagi 35 mustahik yang memenuhi syarat sesuai ketentuan syariat, untuk mengikuti program ini,” ujar Nabhan, Rabu (22/7/2026).
Dia menerangkan, sebelumnya pihaknya telah membuka pendaftaran selama sekitar 10 hari dan dikhususkan bagi warga Kota Samarinda. Dari sekitar 40 pendaftar, kata Nabhan, sebanyak 35 orang dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi administrasi dan survei lapangan.
“Untuk lima peserta lainnya tidak terpilih, karena belum memenuhi persyaratan, salah satunya karena belum memiliki pengalaman menjalankan usaha. Oleh karena ini kita nilai berpotensi meningkatkan risiko kegagalan dalam mengembangkan usaha,” ucapnya.
Nabhan menjelaskan, setiap penerima memperoleh bantuan senilai Rp20 juta. Sebanyak Rp10 juta dialokasikan untuk pengadaan sarana usaha, seperti gerobak, kompor, tabung gas, wajan, panci, dan perlengkapan memasak lainnya.
“Sementara Rp10 juta sisanya, disiapkan sebagai modal pembelian bahan baku, seperti ayam, tepung, serta kebutuhan operasional,” katanya.
Sebelum memulai usaha, ungkap Nabhan, seluruh penerima juga telah mengikuti pelatihan selama dua hari yang difasilitasi BAZNAS Kaltim. Dalam pelatihan tersebut, kata dia, peserta dibekali keterampilan mengolah produk, menjaga standar cita rasa, hingga strategi pemasaran.
“Selain itu kita juga telah menunjuk pihak ketiga sebagai pendamping usaha selama enam bulan. Pendampingan ini dilakukan guna membantu para mustahik mengatasi kendala usaha sekaligus memastikan bisnis dapat berjalan sesuai rencana,” tuturnya.
Setelah enam bulan, pihaknya akan melakukan evaluasi apakah pendampingannya efektif dan mengetahui apa saja kelemahannya, dan bagaimana hasil usahanya.
Selain itu, Nabhan juga menjelaskan, seluruh penerima bantuan diarahkan memperoleh pasokan bahan baku dari satu vendor saja, agar kualitas dan cita rasa produk tetap seragam.
“Pembelian bahan ini kita atur secara bertahap, agar dapat menyesuaikan tingkat penjualan masing-masing, sehingga bahan baku tidak terbuang,” terangnya.
Ia berharap, program tersebut mampu meningkatkan taraf hidup para penerima manfaat. Jika hasil evaluasi menunjukkan perkembangan yang baik, program ini akan diperluas ke seluruh kabupaten/kota di Kaltim melalui skema kolaborasi dengan BAZNAS daerah.
Editor: Erwin




