Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Derasnya arus digitalisasi dan masuknya budaya global dinilai menjadi tantangan serius dalam pembentukan karakter generasi muda.
Di tengah kondisi tersebut, pelestarian budaya lokal dipandang sebagai salah satu instrumen penting untuk memperkuat identitas, nilai-nilai kebersamaan, serta karakter anak sejak usia dini.
Maestro Tari Jepen Si Dabil, Mohammad Hatta, mengatakan pengenalan budaya kepada anak tidak lagi cukup dilakukan sebatas kegiatan seremonial atau pertunjukan seni.
Menurutnya, budaya daerah harus menjadi bagian dari proses pendidikan agar anak memiliki kedekatan emosional dengan identitas daerahnya sendiri.
“Kalau anak-anak tidak dikenalkan dengan budayanya sejak dini, mereka akan lebih mudah menyerap budaya luar tanpa memiliki filter. Akhirnya mereka kehilangan identitas sebagai bagian dari daerahnya,” ujarnya.
Hatta menilai seni tradisional bukan sekadar hiburan, melainkan media pendidikan karakter. Melalui tarian, musik, maupun permainan tradisional, anak-anak belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, serta menghargai nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Karena itu, ia mendorong pemerintah dan satuan pendidikan memberikan ruang yang lebih besar bagi kesenian daerah dalam proses pembelajaran. Salah satu upaya yang tengah didorong adalah menjadikan Tari Jepen Si Dabil sebagai muatan lokal di sekolah sekaligus mengusulkannya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Menurutnya, sekolah menjadi tempat paling strategis untuk memastikan budaya lokal terus hidup di tengah generasi muda. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak bergantung pada kegiatan-kegiatan tertentu, melainkan menjadi bagian dari pendidikan yang berlangsung secara berkesinambungan.
“Kalau masuk dalam pembelajaran di sekolah, anak-anak akan mengenalnya sejak kecil. Dari situ akan tumbuh rasa bangga memiliki budaya sendiri dan keinginan untuk melestarikannya,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan peluang untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus diimbangi dengan penguatan nilai-nilai budaya agar anak tidak kehilangan jati dirinya.
Hatta berharap pemerintah, sekolah, komunitas seni, dan keluarga dapat membangun sinergi dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah.
Ditambahkannya, pelestarian budaya bukan semata menjaga warisan leluhur, tetapi juga investasi jangka panjang dalam membentuk generasi yang berkarakter, memiliki identitas yang kuat, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.
Editor: Erwin




