Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian mendorong percepatan digitalisasi kebudayaan sebagai langkah strategis menjaga warisan budaya Kalimantan Timur (Kaltim) agar tetap hidup di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman.
Hal tersebut disampaikan Hetifah saat menghadiri Dialog Budaya bertema Pengembangan Budaya untuk Masa Depan Berkelanjutan yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Mercure Samarinda, Minggu (26/7/2026).
Menurut Hetifah, pelestarian budaya tidak lagi cukup dilakukan melalui cara-cara konvensional. Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi kebutuhan agar budaya daerah lebih mudah diakses, dipelajari, dan dikenal oleh generasi muda.
Ia mengusulkan pengembangan museum digital, arsip budaya berbasis digital, hingga dokumentasi berbagai tradisi dan karya budaya sebagai bagian dari upaya menjaga identitas bangsa.
“Kalau pembangunan hanya diukur dari kemajuan teknologi dan angka-angka ekonomi, tanpa budaya, maka pembangunan kita akan kehilangan jiwanya,” ujar Hetifah.
Selain digitalisasi, ia juga mengusulkan pemberian beasiswa khusus bagi mahasiswa yang menempuh pendidikan di bidang seni dan budaya.
Menurutnya, dukungan tersebut penting untuk memastikan regenerasi pelaku budaya tetap berjalan dan tidak terhambat persoalan biaya pendidikan.
Hetifah juga menilai pemerintah perlu mulai menghitung kontribusi ekonomi dari penyelenggaraan festival budaya, pertunjukan seni, maupun aktivitas ekonomi kreatif agar kebijakan pendanaan sektor kebudayaan memiliki dasar yang lebih kuat.
Berdasarkan data pokok kebudayaan, Kaltim memiliki sedikitnya 5.385 entitas kebudayaan yang meliputi cagar budaya, objek pemajuan kebudayaan, sumber daya manusia kebudayaan, lembaga budaya, hingga sarana dan prasarana budaya.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim, Fitriansyah menegaskan pelestarian budaya harus didukung riset yang berkelanjutan.
Ia mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan masih banyak bangunan bersejarah yang mengalami perubahan fungsi, sementara penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda terus mengalami penurunan.
Sebagai salah satu inovasi pelestarian budaya, BRIDA bersama Politani Samarinda mengembangkan Etam-Edu, permainan edukatif berbasis muatan lokal Bahasa Kutai yang ditujukan untuk meningkatkan minat anak-anak mempelajari bahasa daerah.
“Ada sekitar 108 jenis tanaman tradisional yang memiliki nilai budaya dan perlu dilestarikan sebagai bagian dari pengetahuan lokal masyarakat Kaltim,” jelasnya.
Fitriansyah menambahkan, setiap kebijakan pelestarian budaya, termasuk rencana pembangunan museum baru, sebaiknya diawali dengan kajian akademik agar program yang dijalankan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat jangka panjang.
Editor: Erwin




