Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

M4CR Targetkan Rehabilitasi Enam Ribu Hektare Mangrove di Kaltim hingga Akhir 2026

Adi Putra
31 Juli 2026
0 views
2 min
Pemaparan Manajer M4CR PPIU Kaltim, Asman Aziz, terkait upaya rehabilitasi dan kondisi mangrove di Kaltim (Surya/Korankaltim.com )

Penulis : Rahmat Surya

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Rehabilitasi hutan mangrove seluas 6.486 hektare di Kalimantan Timur hingga akhir 2026 masuk dalam program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR).

Rehabilitasi tersebut dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Berau, Paser, serta kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kawasan-kawasan ini diprioritaskan karena memiliki potensi pemulihan ekosistem mangrove yang cukup besar.

Manajer M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kaltim Asman Aziz menjelaskan, Kaltim saat ini masih memiliki sekitar 240 ribu hektare ekosistem mangrove yang eksisting, hanya saja sekitar 111 ribu hektare diantaranya merupakan kawasan yang mengalami kerusakan dan berpotensi untuk direhabilitasi.

"Kalau target terpenuhi semuanya sampai akhir tahun ini kami akan melakukan penanaman sekitar 6 ribu hektare mangrove di lima daerah termasuk IKN," ujar Asman Kamis (30/7/2026).

Kondisi mangrove yang masih ada memiliki tingkat kerapatan yang berbeda-beda. Sekitar 5 persen berada dalam kondisi jarang atau cukup rusak, 15 persen berkategori sedang, dan sekitar 22 persen masih tergolong lebat.  "Sementara kawasan seluas 111 ribu hektare yang mengalami kerusakan menjadi prioritas utama rehabilitasi," paparnya.

Rehabilitasi mangrove tidak hanya bertujuan memulihkan lingkungan, tetapi juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir. M4CR ingin mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar memahami pentingnya ekosistem mangrove bagi keberlanjutan lingkungan dan membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan rehabilitasi hutan daratan. 

Hal itu disebabkan lokasi penanaman yang sulit dijangkau, memerlukan transportasi air, serta membutuhkan perencanaan, pendampingan teknis, dan pemantauan pertumbuhan tanaman secara berkala. "Apalagi mangrove merupakan tanaman yang sensitif. Sehingga jika tidak dipantau, misalnya terjadi perubahan aliran air atau kerusakan tanggul, bibit yang sudah ditanam bisa hilang," sebut Asman.

Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, pihaknya fokus memberikan pendampingan intensif kepada kelompok masyarakat. Pendampingan ini tidak hanya mencakup teknik penanaman, tetapi juga penguatan kapasitas, transfer pengetahuan, serta keterampilan dalam mengelola kawasan mangrove secara berkelanjutan.

Manfaat ekonomi program ini belum dihitung secara spesifik karena baru memasuki tahun kedua pelaksanaan sejak tahun 2024. Dirinya optimistis, rehabilitasi mangrove dapat membuka peluang usaha berbasis ekowisata dan pemanfaatan hasil mangrove secara berkelanjutan.  "Ke depan kami akan terus mendorong munculnya usaha-usaha masyarakat berbasis mangrove supaya manfaat ekonomi yang diperoleh semakin besar, tanpa mengabaikan fungsi ekologis kawasan tersebut," pungkas Asman.

Editor: Aspian Nur

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Samarinda.