Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Edukasi Ubah Persepsi Petambak, Mangrove Tak Lagi Dianggap Penghambat

Koran Kaltim
2 Agustus 2026
0 views
3 min
Salah satu tambak di kawasan Delta Mahakam yang mulai di tanami mangrove. (Foto: Surya/Korankaltim.com)

Penulis: Rahmat Surya

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Tantangan rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) kini bukan lagi sebatas penanaman, melainkan mengubah cara pandang masyarakat yang selama bertahun-tahun menganggap mangrove sebagai penghambat produktivitas tambak. 

Melalui edukasi yang berkelanjutan, anggapan tersebut kini mulai berubah, terutama di Desa Sepatin, Kecamatan Anggana. Sejumlah petambak kini memilih mempertahankan mangrove setelah merasakan langsung manfaatnya terhadap kualitas air dan peningkatan produktivitas tambak.

Kesadaran ini tumbuh seiring pengalaman bahwa tambak yang tetap memiliki vegetasi mangrove cenderung lebih stabil dibandingkan tambak yang seluruh pohonnya dibersihkan.

Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Gemilang, Asharuddin, menyampaikan saat ini masih ada sebagian masyarakat yang khawatir lahan tambaknya akan berubah status menjadi kawasan hutan jika ditumbuhi mangrove. Namun, menurut dia kekhawatiran tersebut tidak berdasar, oleh karena itu pihaknya rutin memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait manfaat dan potensi mangrove.

“Sekarang anggota kelompok sudah mulai percaya bahwa mangrove bukan ancaman bagi tambak, tetapi justru mendukung keberhasilan budidaya perikanan,” ujar Asharuddin.

Hal senada juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Hutan Desa Sepatin, Suwardi. Menurutnya, saat pembukaan tambak pada pertengahan 1990-an, banyak mangrove ditebang karena masyarakat belum memahami fungsi ekologisnya. Tetapi setelah bertahun-tahun, kata dia, masyarakat justru menyadari hasil budidaya menurun ketika kawasan tambak kehilangan mangrove. 

“Pengalaman itu yang kemudian mendorong kelompok tani melakukan penanaman kembali di sejumlah titik penting,” ucapnya.

Lalu Ketua Mangrove Borneo, Andi Firmansyah, menambahkan Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) sendiri tidak hanya berfokus pada rehabilitasi mangrove saja, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat melalui sekolah lapangan. 

Ia menuturkan masyarakat juga dilatih memilih benih, mengelola persemaian hingga teknik penanaman sesuai karakteristik pesisir.

“Dari bibit hasil persemaian kelompok ini kemudian dimanfaatkan untuk rehabilitasi mangrove sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan ekonomi,” katanya.

Menurut Firmansyah, keterlibatan masyarakat sejak tahap pembibitan hingga penanaman menjadi fondasi utama keberlanjutan rehabilitasi mangrove. Oleh karenanya dengan memahami manfaat ekologis dan nilai ekonominya, masyarakat semakin yakin bahwa menjaga mangrove juga berarti menjaga keberlangsungan usaha tambak.

Lebih lanjut, Manajer M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kaltim, Asman Aziz, menambahkan sekitar 80 persen pelaksanaan program M4CR di Kaltim masih terkonsentrasi di kawasan Delta Mahakam. Program ini tidak hanya mencakup Desa Sepatin, Muara Pantuan, Tani Baru, dan Kutai Lama di Kecamatan Anggana, tetapi juga menjangkau Muara Badak, Muara Jawa, hingga Desa Muara Bengalon di Kabupaten Kutai Timur.

“Di Desa Sepatin sendiri, sejak 2024 hingga 2026 sedikitnya 33 kelompok masyarakat telah terlibat dalam program tersebut,” katanya.

Dirinya berharap dengan dilakukan program rehabilitasi mangrove tersebut, tidak hanya mampu meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir saja, tapi juga turut menjaga ekosistem dan lingkungan di wilayah Kaltim.

Editor: Erwin

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Koran Kaltim

2

Penulis di kategori Samarinda.