Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Stigma terhadap layanan kesehatan gratis masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan Bulan Pemberian Vitamin A periode Agustus 2026 di Kota Samarinda. Sejumlah orang tua masih menganggap layanan di puskesmas dan posyandu memiliki kualitas di bawah layanan berbayar.
Padahal, program pemerintah tersebut menggunakan kapsul vitamin A berdosis tinggi sesuai standar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang dibagikan secara gratis kepada balita. Suplemen ini berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung tumbuh kembang, serta mencegah stunting. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Samarinda, Rudy Agus Riyanto menjelaskan, suplemen yang didistribusikan pemerintah memiliki kandungan jauh melebihi produk komersial.
“Vitamin A yang dijual di pasaran paling tinggi sekitar 40 ribu IU (International Unit). Sedangkan vitamin A yang kami bagikan minimal 100 ribu IU untuk kapsul biru dan 200 ribu IU untuk kapsul merah,” kata Rudy. Kapsul biru diperuntukkan bagi bayi usia 6 hingga 11 bulan dengan frekuensi satu kali setahun. Sementara kapsul merah diberikan kepada anak usia 12 sampai 59 bulan sebanyak dua kali setahun, setiap Februari dan Agustus, serta dialokasikan dua dosis bagi ibu nifas.
Penetapan Februari dan Agustus sebagai Bulan Pemberian Vitamin A bertujuan mempermudah distribusi dan membantu masyarakat mengingat jadwal pelayanan. Kendati demikian, puskesmas tetap melayani pemberian vitamin A di luar periode tersebut apabila terdapat kondisi medis yang membutuhkan.
“Vitamin A juga memicu pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, memperbaiki mukosa atau lapisan pelindung tubuh, serta membantu penanganan penyakit seperti diare dan campak,” terangnya. Pentingnya pemenuhan vitamin A ini tecermin dari pembelajaran masa pandemi COVID-19, ketika keengganan orang tua datang ke posyandu berdampak pada terlewatnya asupan nutrisi penting bagi imunitas anak.
Untuk pelaksanaan tahun ini, Dinkes Samarinda menargetkan sekitar 54 ribu balita menerima vitamin A. Ketersediaan stok di seluruh puskesmas dipastikan aman karena tidak terdampak kebijakan efisiensi anggaran.
Guna memperluas jangkauan sasaran, jajaran puskesmas juga menghadirkan inovasi pelayanan lapangan, mulai dari pembukaan gerai di pasar hingga kunjungan langsung dari rumah ke rumah. Seluruh program kesehatan publik juga dipastikan telah melalui kajian ilmiah dan disusun berdasarkan standar nasional.
Dokter spesialis anak serta jajaran rumah sakit pun disebut sudah berkolaborasi dengan puskesmas guna memperkuat jejaring pelayanan dasar. “Ini bukan sekadar memenuhi program pemerintah, melainkan agar anak memiliki daya tahan tubuh yang kuat, pertumbuhannya baik, dan kesehatannya terjaga,” tandasnya.
Editor: Erwin




