Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Komentar Dokter di Media Sosial Picu Kritik, Dekan FK Unmul Soroti Pentingnya Empati

Adi Putra
5 Agustus 2026
0 views
2 min
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman, dr. Nataniel Tandirogang (Surya/Korankaltim.com)

Penulis: Rahmat Surya

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (FK Unmul), dr. Nataniel Tandirogang, menegaskan bahwa seorang dokter harus tetap menjaga sikap empati dalam setiap situasi, termasuk saat menyampaikan pendapat di media sosial. 

Hal itu disampaikannya menanggapi viralnya komentar seorang dokter dari RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda, yang disebut merupakan alumni FK Unmul dan menuai kritik dari masyarakat.

Menurut Nataniel, besarnya perhatian publik terhadap kasus tersebut tidak terlepas dari profesi dokter yang selama ini identik dengan sikap humanis dan penuh empati. Karena itu, komentar yang dinilai bernada negatif lebih mudah memicu reaksi masyarakat dibandingkan jika disampaikan oleh profesi lain.

“Kalau komentarnya bukan seorang dokter, mungkin tidak akan seheboh ini. Masyarakat memahami bahwa dokter harus penuh dengan empati, ketika muncul komentar yang dianggap negatif, kesannya dokter tidak menunjukkan empati,” ujar Nataniel saat ditemui Korankaltim.com, Rabu (5/8/2026).

Ia menilai peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bagi dokter yang bersangkutan maupun tenaga kesehatan lainnya. Menurutnya, status sebagai dokter tetap melekat, baik saat menjalankan profesi maupun ketika berinteraksi di ruang digital.

Sebagai Dekan FK Unmul, Nataniel juga mengaku langsung menghubungi dokter tersebut setelah mengetahui bahwa yang bersangkutan merupakan alumni fakultas yang dipimpinnya. 

“Upaya ini kita lakukan guna mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya,” ucapnya.

Dari hasil klarifikasi, Nataniel menjelaskan bahwa komentar tersebut muncul dalam sebuah percakapan di media sosial terkait keluhan seorang pasien. Pasien tersebut tidak diketahui berasal dari rumah sakit mana, dan dipastikan bukan pasien rumah sakit di Kaltim.

“Persoalannya juga bermula dari unggahan pasien yang mengaku tidak mendapatkan pelayanan sebagaimana mestinya karena berstatus peserta BPJS,” katanya.

Unggahan itu kemudian memancing tanggapan dari sejumlah tenaga kesehatan, termasuk dokter asal Kota Samarinda yang kini menjadi sorotan. Nataniel menegaskan, bahwa pelayanan di instalasi gawat darurat (UGD) tidak membedakan pasien berdasarkan status BPJS maupun pasien umum.

“Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat kegawatan kondisi pasien, terlebih di rumah sakit pemerintah yang setiap hari menangani banyak kasus darurat,” jelasnya.

Meski memahami tekanan kerja tenaga kesehatan di UGD yang sangat tinggi, Nataniel menilai komentar yang disampaikan dokter tersebut tetap tidak mencerminkan empati. Menurutnya, sikap empati harus tetap dikedepankan, terutama ketika merespons keluhan masyarakat.

“Ini menjadi pembelajaran bagi kita di Fakultas Kedokteran. Pendidikan mengenai empati tidak hanya harus diterapkan saat memberikan pelayanan kepada pasien, tetapi juga dalam berkomunikasi di media sosial. Ke depan kita akan terus memperkuat pendidikan karakter dan empati bagi seluruh mahasiswa kedokteran,” pungkasnya.

Editor: Erwin 

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Samarinda.