Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Samarinda

Soroti Dokter Viral, IDI Kaltim Tekankan Pentingnya Etika dalam Bermedsos

Adi Putra
6 Agustus 2026
0 views
2 min
Ilustrasi dokter saat bermain di media sosial (Open AI)

Penulis: Rahmat Surya

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kaltim, dr. Mansyah, mengingatkan seluruh dokter untuk selalu mengedepankan etika dan empati saat menggunakan media sosial, menyusul viralnya komentar seorang dokter yang menuai sorotan publik.

Sebelumnya Mansyah mengatakan, berdasarkan informasi yang dihimpun IDI Kaltim, keluhan pasien yang ramai diperbincangkan di media sosial tidak terjadi di rumah sakit di Kaltim. Namun, dokter yang menjadi sorotan diketahui bekerja di salah satu rumah sakit di Kota Samarinda.

Selain itu, dia menyatakan, bahwa dokter tersebut juga bukan anggota IDI, baik di tingkat cabang maupun wilayah. Karena itu, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pembinaan, maupun pemeriksaan melalui mekanisme organisasi profesi.

“Berdasarkan informasi yang diterima, saat memberikan komentar di media sosial yang bersangkutan tidak sedang menjalankan tugas sebagai dokter,” ujar Mansyah kepada wartawan Korankaltim.com, Kamis (6/8/2026).

Selain itu akun media sosial yang digunakan juga tidak mencantumkan identitas profesi. Namun ungkap Mansyah, karena publik mengetahui latar belakangnya sebagai dokter, komentar tersebut akhirnya dikaitkan dengan profesinya.

“Kita menilai persoalan ini pada dasarnya merupakan ranah individu. Tetapi memang yang namanya profesi dokter tetap akan melekat di mata masyarakat, sehingga setiap pernyataan di ruang publik harus disampaikan secara bijak,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan,m bahwa setiap unggahan di media sosial memiliki jejak digital yang sulit dihilangkan. Bahkan, komentar yang telah dihapus tetap dapat tersebar luas melalui tangkapan layar.

“Karena itu, kita terus mengimbau seluruh dokter, khususnya yang aktif di media sosial, agar selalu menjaga etika, empati, dan kehormatan profesi dalam setiap bentuk komunikasi,” katanya.

Selain itu, Mansyah juga mengajak masyarakat yang merasa tidak puas terhadap pelayanan rumah sakit untuk menyampaikan keluhan melalui mekanisme resmi.

“Seperti melaporkan melaluu unit pengaduan, call center, atau duty manager, sehingga persoalan dapat ditangani lebih cepat dan tepat,” tuturnya.

Kemudian, Mansyah menambahkan, jika terjadi dugaan pelanggaran etik terhadap dokter yang telah menjadi anggota IDI, dapat diproses melalui Majelis Kode Etik Kedokteran (MKEK), dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. 

“Walaupun begitu kita berharap peristiwa ini menjadi pengingat bagi seluruh dokter untuk selalu menjaga etika dan empati, baik saat memberikan pelayanan maupun ketika berkomunikasi di media sosial,” pungkasnya. 

Editor: Erwin 

Tags:

SamarindaBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Samarinda.