Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2026 diproyeksikan masuk fase penting, khususnya ketergantungan pada batu bara diprediksi semakin melemah, sementara struktur ekonomi perlahan bergeser ke sektor yang lebih beragam.
Bank Indonesia (BI) Kaltim menilai tren permintaan global terhadap batu bara yang terus turun akan menjadi salah satu faktor penahan laju ekonomi tahun depan.
Deputi Kepala Perwakilan BI Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menyebut pelemahan pasar batu bara merupakan imbas percepatan transisi energi di negara-negara besar.
“Sektor pertambangan tak lagi bisa menjadi penopang utama seperti sebelumnya,” ujarnya.
Penurunan permintaan diprediksi berpengaruh langsung terhadap kontribusi sektor ekstraktif yang selama ini mendominasi PDRB Kaltim.
Di tengah tekanan tersebut, BI memproyeksikan ekonomi Kaltim tahun 2026 tetap tumbuh moderat pada kisaran 4,5-5,3 persen, ditopang perluasan kapasitas refinery migas, investasi yang terus menguat, serta berjalannya proyek-proyek strategis di daerah maupun nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyeksi ini melanjutkan momentum pertumbuhan 2025 yang diperkirakan berada pada rentang 4,8-5,6 persen.
Bayuadi menegaskan Kaltim tak bisa lagi bergantung pada satu sektor. Ia menyebut sejumlah sumber pertumbuhan baru seperti agribisnis, manufaktur, pengolahan CPO, ekspansi hilirisasi, serta aktivitas konstruksi pemerintah dan swasta.
“Struktur ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan memperkuat sektor non-ekstraktif,” katanya.
Selain pelemahan batu bara, risiko lain yang membayangi ekonomi 2026 adalah anomali iklim yang berpotensi menghambat produksi tanaman pangan. Kondisi ini diperkirakan dapat memicu gejolak harga kebutuhan pokok, sehingga menekan kontribusi sektor pertanian.
Di sisi lain, tren kenaikan harga minyak dan emas dunia juga dinilai dapat mendorong tekanan inflasi melalui biaya energi dan produksi.
Meski menghadapi tekanan eksternal, BI memperkirakan inflasi Kaltim 2026 tetap dapat dijaga dalam target nasional 2,5±1 persen, ditopang penguatan koordinasi pengendalian inflasi di daerah oleh TPID.
Upaya stabilisasi harga pangan, dukungan distribusi, serta sinergi kebijakan lintas sektor disebut menjadi faktor kunci menjaga kondisi harga tetap terkendali.
Ia juga menyebutkan, saat ini pemerintah Provinsi Kaltim turut menekankan pentingnya kolaborasi yang tidak berjalan sendiri-sendiri. Mengingat transformasi ekonomi hanya bisa dicapai bila kebijakan pusat, daerah, dunia usaha, dan lembaga keuangan berjalan dalam satu arah.
BI melihat soliditas koordinasi ini akan menjadi penentu arah ekonomi Kaltim tahun depan. Jika sinergi kebijakan bisa dipertajam, pertumbuhan moderat yang diproyeksikan berpeluang menguat meskipun batu bara mengalami penurunan signifikan.
Dengan kombinasi tekanan pada komoditas utama dan dorongan kuat terhadap sektor-sektor baru, tahun 2026 disebut sebagai titik penyeimbang bagi Kaltim, ujian transformasi sekaligus peluang memperkuat fondasi ekonomi pasca-era dominasi batu bara.
Editor: Erwin




