Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Ekonomi Bisnis

Martabak Bakar Andalan Berbuka, Warisan Tiga Generasi di Samarinda

Adi Putra
2 Maret 2026
0 views
3 min
Caca Handika saat menjajakan Martabak Bakar dengan resep warisan keluarganya (Adnan Abdul/KoranKaltim)

Penulis: Adnan Abdul 

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Aroma rempah yang hangat bercampur dengan wangi telur yang dipanggang perlahan menyambut setiap pengunjung yang melintas di kawasan Pasar Ramadan, Jalan Kusuma Bangsa, tepat di area parkir GOR Segiri. 

Di antara deretan tenda kuliner yang menyajikan aneka takjil dan hidangan berbuka, satu stand berukuran enam meter persegi itu tampak tak pernah sepi pembeli, Spanduk sederhana bertuliskan “Martabak Bakar” menjadi penanda lapak milik Caca Handika.

Di bawah cahaya lampu temaram menjelang magrib, Caca dengan cekatan membolak-balik martabak di atas wajan datar. Sesekali ia menyeka keringat di pelipisnya, namun senyum ramah tak pernah lepas saat melayani pelanggan yang terus berdatangan. Baginya, Ramadan tahun ini terasa istimewa karena martabak bakar racikannya kini semakin dikenal luas.

“Sudah dari kakek, lalu ibu, sekarang saya,” ujarnya singkat.

Sang ibu telah menekuni usaha martabak selama kurang lebih 25 tahun, sementara kakeknya bahkan lebih lama lagi. Namun Caca sendiri sudah 10 tahun terakhir mengelola usaha tersebut secara mandiri.

Nama “Martabak Bakar” ternyata tidak langsung melekat sejak awal. Dahulu, ia hanya menyebut dagangannya sebagai martabak isi biasa. Sekitar empat tahun lalu, setelah mencari konsep dan identitas yang tepat, ia memberanikan diri memberi nama khusus. Sejak saat itu, perlahan masyarakat mengenalnya sebagai martabak bakar.

“Baru empat tahunan saya pakai nama ini,” katanya.

Berbeda dari martabak telur pada umumnya, kreasi Caca memiliki ciri khas pada lapisan yang menggunakan telur murni tanpa campuran air. Isinya pun tak sekadar daun bawang dan bawang bombai. Ia memadukan kentang, wortel, daging ayam, dan daging sapi yang telah dimasak bersama beragam rempah.

“Ada sekitar 12 rempah. Kita padukan Nusantara dan sedikit Timur Tengah,” tuturnya.

Meski bukan keturunan Arab, ia ingin menghadirkan cita rasa berbeda agar martabak buatannya punya identitas kuat. Inspirasi tersebut juga berangkat dari sejarah martabak yang menurutnya berkembang dari wilayah Banjar, Kalimantan Selatan, lalu berinovasi seiring waktu.

Proses pembuatannya pun tidak instan. Jika dimulai dari awal, satu martabak bisa memakan waktu hingga 25 menit. Namun untuk adonan setengah matang, cukup 5–10 menit hingga siap disajikan. Seluruh bahan ditumis dan digoreng terlebih dahulu agar tahan lama dan tidak mudah basi.

“Karna kami ingin menyajikan nya dengan sepenuh hati dan tidak asal-asalan, untuk durasi dari nol emang cukup lama ,” ucapnya.

Kesabaran dalam proses itu terbayar dengan omzet yang cukup menjanjikan. Dalam sehari selama Ramadan, Caca mengaku mampu meraih omzet kotor lebih dari Rp4 juta, dengan keuntungan bersih sekitar Rp2 jutaan. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, Rp30 ribu untuk varian ayam dan Rp35 ribu untuk varian daging sapi.

Suasana Pasar Ramadan di Jalan Kusuma Bangsa sendiri tahun ini terasa lebih semarak. Selain menu klasik seperti kolak, es buah, dan gorengan, sejumlah pedagang menghadirkan inovasi baru. Martabak bakar menjadi salah satu menu yang mencuri perhatian pengunjung yang ingin mencoba sesuatu berbeda untuk berbuka.

Anak-anak kecil tampak berlarian di sela kerumunan, sementara orang tua sibuk memilih hidangan. Aroma manis, gurih, dan pedas bercampur menjadi satu, menciptakan pengalaman khas Ramadan yang selalu dirindukan warga Samarinda.

Di luar Ramadan, Caca rutin berjualan setiap Minggu pagi di kawasan Stadion Sempaja, dari pukul 07.00 hingga 11.00 Wita, serta sesekali mengikuti berbagai event kuliner. Namun baginya, momen Ramadan di GOR Segiri tetap menjadi panggung terbaik untuk memperkenalkan resep yang di wariskan turun temurun oleh keluarganya.

Di balik kepulan asap wajan, martabak bakar itu bukan sekadar makanan. Ia adalah cerita panjang tentang tradisi, inovasi, dan tekad mempertahankan cita rasa agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.


Editor: Erwin

Tags:

Ekonomi BisnisBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Ekonomi Bisnis.