Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Industri tahu dan tempe rumahan di Kecamatan Tenggarong tengah menghadapi badai ekonomi. Kenaikan harga bahan baku yang terjadi selama hampir dua bulan terakhir memaksa para perajin memutar otak agar tidak gulung tikar. Namun, upaya bertahan ini justru membuat mereka terancam kehilangan pelanggan karena kalah bersaing dengan produk dari luar daerah.
Pemilik Usaha Tahu Tempe Tenggarong, Nadiva Putri, mengungkapkan kenaikan biaya produksi sudah tidak masuk akal. Harga kedelai yang biasanya Rp525.000 per kuintal kini melonjak ke angka Rp585.000.
Beban ini diperparah dengan harga plastik yang meroket, plastik pembungkus yang dulunya Rp12.000 kini mencapai Rp17.000 hingga Rp25.000.
“Plastik itu paling penting. Sehari saya bisa habis Rp100.000 hanya untuk plastik. Kalau dihitung seminggu sudah Rp700.000, belum lagi kayu bakarnya. Total biaya produksi saja bisa tembus Rp2 juta per minggu,” ujar Nadiva, Selasa (28/4/2026).
Selain biaya bahan baku, mereka juga menghadapi tantangan berat dari masuknya produk tempe asal Samarinda. Nadiva menyebutkan tempe dari Samarinda dijual di Tenggarong dengan ukuran yang jauh lebih besar dan harga yang lebih miring.
“Kami kalah saing. Orang Samarinda jual ke sini tempenya besar-besar. Mungkin di sana ada perkumpulannya, jadi beli bahan bakunya bisa lebih murah. Sementara kami di sini sudah terpaksa mengurangi ukuran porsi supaya tidak rugi, tapi dampaknya pelanggan jadi sepi karena mereka bandingkan dengan produk luar yang lebih besar,” jelasnya.
Hingga saat ini, belum ada koordinasi atau bantuan dari dinas terkait mengenai ketidakstabilan harga ini. Para perajin berada di posisi sulit.
“Jika harga dinaikkan, pelanggan protes, jika ukuran dikurangi, pelanggan kabur. Akibatnya, pendapatan bersih kami merosot hingga Rp200.000 per hari,” ungkapnya.
Nadiva berharap masyarakat bisa lebih memahami kondisi yang menjepit para perajin lokal saat ini.
“Untuk pelanggan atau pembeli, kami minta pengertiannya, semuanya naik. Ada yang protes kenapa tempenya kecil-kecil, tapi ada juga yang mengerti dan tanya kapan harganya naik. Kami hanya ingin usaha ini tetap bernapas,” harapnya.
Kini, para perajin di Tenggarong hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga kedelai dan plastik agar mereka tidak terus-menerus merugi di tengah persaingan pasar yang kian ketat.
Editor: Erwin




