Peringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan GuruPeringati Hari Kebaya Nasional, Saeful Rizal Tegaskan Penting Mencintai Budaya BangsaGedung Baru Ekraf PPU di Penajam Siap Beroperasi, jadi Pusat Aktivitas Pelaku Kreatif‎Fun Bike Hari Bhayangkara ke-80 di Mahulu Dipenuhi Ribuan PesertaMesir Hentikan Langkah Australia Lewat Drama Adu PenaltiDiduga Jadi Lokasi Prostitusi dan Peredaran Miras, Aktivitas Wisma dan Kafe Ilegal di Santan Ulu Resahkan WargaKebutuhan Minyak Capai 1,6 Juta Barel per Hari, PHI Tekankan Pentingnya Produksi DomestikOmbudsman Kaltim Terima 278 Akses Masyarakat, Didominasi Aduan Penundaan LayananHadiri Rakernas ADPSI 2026, Achmad Djufrie Tegaskan Komitmen Pelestarian LingkunganGelar Sosper di Nunukan Timur, Rismanto Dorong Budaya Hidup SehatSosialisasikan Perda Pendidikan di Nunukan, Rismanto Tampung Aspirasi Soal Fasilitas dan Guru
Ekonomi Bisnis

Harga Cabai di Pasar Petung Penajam Bertahan Rp80 Ribu per Kilo

Adi Putra
1 Juni 2026
0 views
2 min
Cabai panjang dipasar tradisional Petung, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU. (Dinda/korankaltim.com)

Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani

KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Harga komoditas cabai di pasar tradisional Petung, Kecamatan Penajam, terpantau stabil namun bertahan di angka yang cukup tinggi setelah melewati masa Lebaran. Saat ini, harga eceran cabai berada di kisaran Rp80.000 per kilogram.

​Salah satu pedagang di pasar tersebut, Supri (50), mengungkapkan bahwa harga ini sebenarnya sudah mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode sebelum Lebaran (Idulfitri).

​"Sebelum Lebaran lalu, harga cabai sempat menyentuh angka Rp90.000 per kilogram, bahkan sampai Rp100.000 lebih. Sekarang sudah turun lagi ke Rp80.000. Menurut saya, harga ini termasuk normal untuk situasi sekarang, karena biasanya kalau sedang mahal bisa di atas Rp100.000," ujar Supri saat ditemui di lapaknya, Senin (1/6/2026).

​Ketika ditanya mengenai kemungkinan harga cabai kembali turun ke angka normal Rp60.000 per kilogram, Supri menjelaskan bahwa hal tersebut sulit terwujud dalam waktu dekat. Berdasarkan informasi yang ia terima dari pihak produsen, tingginya harga jual di tingkat pedagang dipicu oleh beban biaya produksi di tingkat petani yang masih tinggi.

​"Dari petaninya sendiri mengeluhkan harga obat-obatan pertanian yang mahal. Karena biaya operasional dan perawatan kebunnya melonjak, otomatis harga jualnya ikut menyesuaikan. Kalau nanti harga obat-obatan dari sana bisa turun, baru kemungkinan harga cabai di sini bisa ikut turun," tambahnya. 

​Berbeda dengan cabai, komoditas bumbu dapur lainnya seperti bawang merah dan bawang putih justru cenderung stabil sejak Idulfitri lalu. Supri menjual bawang merah dan bawang putih di kisaran harga Rp50 Ribu per kilogram, sementara untuk jenis bawang putih tertentu ada yang lebih murah di angka Rp40 Ribu hingga Rp45 Ribu per kilogram. Di sisi lain, komoditas tomat justru sedang mengalami kenaikan harga. Saat ini, harga eceran tomat menyentuh Rp20 Robu per kilogram. Meski terhitung mahal, harga ini sudah jauh lebih rendah dibandingkan sebelum Lebaran yang sempat menembus Rp35.000 per kilogram akibat kelangkaan pasokan barang.

Para pedagang saat ini juga dihadapkan pada tantangan naiknya harga bahan penunjang seperti kantong plastik. Supri menyebutkan, harga satu pak kantong plastik naik cukup signifikan hingga Rp7.000.

​"Biasanya harganya cuma Rp15.000, sekarang naik jadi Rp22.000 bahkan ada yang Rp23.000 per pak. Jelas ini memotong keuntungan kami, karena pedagang tidak bisa menaikkan harga jual barang seenaknya dan harus mengikuti harga pasar yang umum," keluh Supri.

​Untuk menyiasati pembengkakan biaya operasional tersebut, Supri kini beralih menggunakan kantong plastik alternatif berwarna hitam yang harganya lebih ekonomis.


Editor : Aspian Nur 

Tags:

Ekonomi BisnisBerita TerkiniIndonesia

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Adi Putra

2

Penulis di kategori Ekonomi Bisnis.